Kamis, 06 Desember 2012

KEGAIRAHAN, KETEGANGAN, KECEMASAN ATLET

BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Olahraga adalah sebuah yang ditinjau dari berbagai dimensi. Olahraga selaim dimensi fisik olahraga juga dikaji dari dimensi psikis. Dimensi psikis atau jiwa dalam aktivitas jasmani dan olahraga merupakan bagian terpenting dalam penampilan seorang olahragawan. Beberapa keadaan psikologis yang terjadi pada olahragawan sangatlah kompleks. Kompleksitas tubuh manusia dalam menghadapi respon dan tekanan merupakan kondisi yang sering terjadi dalam aktivitas jasmani dan olahraga.
Hal yang sering terjadi dalam lingkup aktivitass jasmani dan olahraga adalah timbulnya kegairahan, ketegangan, dan kecemasan. Terkait kegairahan para atlet butuh untuk belajar mengontrol kegairahan meraka. Meraka harus bisa mengatasi kondisi ketika mereka merasa lesu dan terpuruk (down) yang diakibatkan karena rasa cemas atau nervous. Kuncinya adalah pada individu atlet sendiri, yaitu dengan menemukan level permainan (motivasi) terbaik mereka tanpa menghilangkan teknik dan konsentrasi meraka. Berbagai variasi dalam mengatur motivasi secara detail yang akan bisa membantu setiap individu yang bergelut dalam bidang olahraga dan latihan (fisik) mengatur tingkat tertinggi motivasi mereka. Proses pertama dari proses ini adalah dengan belajar bagaimana mereka menyadari atau menjadi care terhadap perasaan cemas dan kondisi motivasi (kegairahan) mereka.
Terkait dngan ketegangan (stress) khususnya olahraga kompetitif, atlet harus mempunyai kemampuan dalam mengatasi berbagai stimulus yang berpotensi memberikan pengalaman stress terhadap dirinya seperti sorakan dan cemoohan penonton, perasaan sakit akibat terjadi cedera, kekalahan dalam berbagai pertandingan, kelemahan yang dimiliki atlet baik kelemahan fisik maupun kelemahan mental, atau sumber-sumber lain yang mengakibatkan terjadinya stress.
Kecemasan sebagai salah satu kajian psikologis yang unik dan menarik yang terjadi pada manusia dan olahragawan. Kejadian-kejadian yang penting dalam menghadapi, saat dan akhir pertandingan dalam olahraga sangat dipengaruhi oleh tingkatan kecemasan dari pelaku olahraga, baik atlet, pelatih, wasit, maupun penonton. Perasaan cemas diakibatkan karena bayangan sebelum pertandingan dan saat pertandingan, hal tersebut terjadi karena adanya tekanan-tekanan secara kejiwaan pada saat bermain dan sifat kompetisi olahraga yang didalamnya sarat dengan perubahan dari keadaan permainan ataupun kondisi alam yang membuat menurunnya kepercayaan diri dari penampilan olahragawan.
Kegagalan para olahragawan kadang salah satunya karena adanya kekurang mantapan mental yang terjadi karena adaanya jiwa pencemas dalam menghadapi pertandingan. Perasaan cemas yang mengakibatkan terganggunya kemampuan individu atau tim dalam mengeluarkan segala kemampuan fisik yang dimilikinya. Dengan sebab-sebab kecemasan yang mengakibatkan menurunnya penampilan yang pada akhirnya membuat kegagalan dalam pertandingan olahraga.
Melalui tulisan ini akan dijelaskan dan dikemukakan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kegairahan, ketegangan, dan kecemasan. Masalah-masalah tentang kegairahan, ketegangan, dan kecemasanyang menarik untuk dikaji selayaknya akan bermanfaat pada para pelaku olahraga seperti halnya atlet, pelatih, guru pendidikan, wasit, dan penonton.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kegairahan (Arousal) dan Kecemasan (Anxiety)
Kegairahan adalah sebuah gabunagn dari psikologi dan kegiatan psikologi seseorang dan hal ini mengarah kepada instensitas dimensi / ukuran motivasi pada momen khusus. Intensitas “kegairahan” merupakan sebuah rangkaian kesatuan yang bergerak dari tidak terbangun sama sekali (koma) hingga sampai terjadi kegairahan sempurna. kegairahan adalah sebuah psikologi umum dan penggerakan psikologis, yang berubah-ubah pada sebuah rangkaian kesatuan dari tidur yang nyenyak sampai perangsangan yang bersemangat.
Kecemasan (Anxiety) adalah salah satu gejala psikologis yang identik dengan perasaan negative. Beberapa ahli psikologi menjelaskan pengertian kecemasan dalam berbagai makna. Menurut Robert S. Weinberg dan Daniel Gold (2007: 78) mendefinisikan kecemasan adalah sebuah perasaan negatif yang memiliki cirri gugup, rasa gelisah, ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi, dan yang terjadi pergerakan atau kegairahan dalam tubuh. Kecemasan memiliki dua komponen yaitu terdiri dari kecemasan kognitif (cognitive anxiety) yang ditandai dengan rasa gelisah dan ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi, sedangkan yang kedua adalah kecemasan somatik (somatic anxiety) yang ditandai dengan ukuran keadaan fisik seseorang. Sedangkan menurut Singgih D. Gunarsa(1989: 147) mendefinisikan sebagai perasaan tidak berdaya, tekanan tanpa sebab yang jelas, kabur, atau samar-samar. Sedangkan A.Budiarjo, dkk (1987: 351) menyatakan bahwa kecemasan adalah keadaan tertekan dengan sebab atau tak ada sebab yang mengerti, kegelisahan hamper selalu disertai dengan gangguan system syarat otonom dan disertai rasa mual. Kartini Kartono (1981: 116) menyatakan bahwa kecemasan adalah semacam kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas dan mempunyai cirri yang merugikan. Rita L. Atikinson (1983: 212) mengemukakan bahwa kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah-istilah seperti kekawatiran, keprihatinan dan rasa takut yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda-beda. Ahli lain Griest et all (1986) merumuskan kecemasan sebagai suatu ketegangan mental yang disertai dengan gangguan tubuh yang bersangkutan merasa tidak berdaya dan mengalami kelelahan karena senantiasa harus berbeda dalam keadaan waspada terhadap ancaman yang tidak jelas dan hamper selalu disertai gangguan pencernaan.
Sedangkan Pahlevi (1991) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu kecendurangan untuk mempersepsikan situasi sebagai ancaman dan akan mempengaruhi tingkah laku. Handoyo (1980) menjelaskan kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang dialami oleh seseorang, dimana ia merasa tegang tanpa sebab-sebab yang nyata dan keadaan ini memberikan pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan - perubahan pada tubuhnya baik secara somatik maupun psikologis.
Dari berbagai pendapat-pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu yang akan dilakukan dan belum terjadi yang ditandai dengan kekhawatiran, kurang percaya diri, kegelisahan yang kadang kala dapat mengganggu kinerja fisiologis tubuh. Kecemasan merupakan gejala psikologis yang umum terjadi dan setiap orang sadar pasti pernah mengalaminya.
B. Jenis Kecemasan
Kecemasan menurut beberapa pakar psikologi dibagi dalam berbagai bentuk. Menurut Spielberger (Singgih D. Sunarsa, 2004: 74) membedakan kecemasan menjadi 2 yaitu :
1. Kecemasan sebagai suatu sifat (trait anxiety) yaitu suatu predisposisi untuk mempersepsikan situasi lingkungan yang mengancam dirinya. Robert S Weinberg dan Daniel Gould (2003: 79) mengatakan bahwa trait anxiety adalah bagian dari kepribadian yakni sesuatu yang diperoleh dari kecenderungan tingkah laku atau disposisi dari pengaruh tingkah laku. Trait anxiety adalah suatu disposisi tingkah laku merasa dalam keadaan terancam yang secara objeltif tidak berbahaya dan tanggapannya tidak sebanding dengan state anxiety.
2. Kecemasan sebagai suatu keadaan (State Anxiety) yaitu suatu keadaan emosional berupa ketegangan dan ketakutan yang tiba-tiba muncul serta diikuti perubahan fisiologis tertentu. Robert S. Weinberg dan Daniel Gould (2007: 79) menjelaskan state anxiety merujuk pada komponen perubahan suasana jiwa. State anxiety pengertiannya sebuah kesetaraan, keadaan perasaan yang subyektif yang selalu berubah - ubah, perasaan sadar dari ketakutan sesuatu yang akan terjadi dan ketegangan yang tergabung dalam aktivasi dari system. Sebagai contoh bahwa tingkat state anxiety pada pemain sepakbola akan berubah ubah pada waktu ke waktu pada saat pertandingan, karena dipengaruhi oleh keadaan yang berbeda-beda..Menurut Robert S. Weinberg dan Daniel Gold (2007: 78) state anxiety ada 2 yaitu terdiri dari cognitive state anxiety yang ditandai dengan rasa gelisah dan ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi, sedangkan yang kedua adalah somatic state anxiety yang ditandai dengan ukuran keadaan fisik seseorang.
Dalam olahraga jenis kecemasan yang bias diminimalisir adalah kecemasan sebagai suatu keadaan (state anxiety), sedangkan kecemasan sebagai suatu sifat (trait anxiety) yang merupakan bagian dari kepribadian orang sulit untuk diminimalisir karena merupakan bawaan sejak lahir. Menurut Singgih D. Gunarsa (1978) yang menutip pendapat dari freud membedakan kecemasan menjadi 3 yaitu :
1. Cemas obyektif (objective anxiety) yaitu cemas yang timbul karena sejak lahir seseorang sudah dihadapkan pada keadaan yang bersikap menekan.
2. Cemas penyakit (neurotic anxiety) ysitu kecemasan yang dialami seseorang yang pernah mengalami pengalaman yang menakutkan pada situasi serupa sehingga seseorang mengalami trauma bila dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan dan kecemasan ini dapat juga timbul karena akibat yang mungkin timbul jika tuntutan yang dihadapi tidak terpenuhi, akibatnya seseorang selalu berada dalam keadaan cemas karena takut menghadapi akibat buruk dan situasi tertentu.
3. Cemas moras ( Moral Anxiety) yaitu kecemasan yang timbul karena larangan-larangan dan pembatasan moral yang berasal dari orang tua, lingkungan, budaya dan perasaan takut mendapat hukuman. Kecemasan ini dapat timbul oleh tekanan-tekanan berat karena dirasa berlawanan dengan keyakinan hati nurani.
Menurut Singgih D. Gunarsa (1996) membagi menurut sumbernya kecemasan menjadi 2 yaiti :
1. Kecemasan yang berasal dari dalam : kecemasan yang berasal dari dalam diri seseorang.
2. Kecemasan yang berasal dari luar : kecemasan yang berasal karena stimulus dari luar diri seseorang.
C. Mengukur Kegairahan dan Kecemasan
Untuk mengukur kegairahan, para psikolog melihat pada perubahan dalam tanda-tanda psikologis : detak jantung, pernafasan, keadaan kulit ( direkam dengan sebuah ukuran tegangan), biokimia (digunakan untuk menilai perubahan zat-zat seperti katekolamina). Para psikolog juga melihat pada bagaimana orang-orang mengukur tingkat kegairahan mereka denngan sebuah set (seri-seri), pernyataan (seperti “My heart is pumping”, I fell Peppy”), menggunakan skala numeric yang bergerak dari rendah ke tinggi. Skala-skala ini mengacu pada “self – report measures”
Untuk mengukur sate anxiety, psikolog menggunakan global dan multidimensi laporan diri tindakan. Dalam langkah-langkah global, orang-orang menilai bagaimana mereka merasa gugup, dengan menggunakan skala laporan diri dari rendah ke tinggi. Menjumlahkan skor setiap item menghasilkan skor total. Laporan multidimensi tindakan digunakan di sekitar dengan cara yang sama, tapi orang-orang menilai bagaimana khawatir (cognitive state anxiety) dan bagaimana secara psikologis yang mereka rasa,. Dengan menggunakan laporan diri skala berkisar dari rendah ke tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bernilai tinggi di ukutan trait anxiety juga mengalami state anxiety yang lebih dalam persaingan yang tinggi dan suasana yang evaluative. Seorang atlet yang mempunyai sifat bawaan kegelisahan yang tinggi mungkin mempunyai jumlah pengalaman yang besar dalam situasi tertentu dan gengan alas an tidak merasa sebuah kegelisahan, dan koresponden keadaan gelisah yang tinggi.
D. Stress dan Memahami Proses Stress
Stress adalah sebuah ketidak seimbangan yang kuat antara permintaan (fisik dan psikologis) dan reaksi kemampuan, dibawah keadaan-keadaan dimana kegagalan untuk memenuhi permintaan mempunyai konsekuensi yang penting. ( Mc Grath, 1970: 20). Sedangkan stress menurut Gunarsa dan Gunarsa (2001) dirumuskan sebagai setiap tekanan, ketegangan yang mempengaruhi seorang dalam kehidupan dan pengaruhnya dapat bersifat wajar atupun tidak, tergantung dari reaksi orang terhadap ketegangan tersebut. Faktor individual menentukan reaksi seseorang terhadap keadaan stress dan selanjutnya akan dirasakan atau sebaliknya tidak dirasakan sabagai stress. Pengertian tersebut menekankan adanya proses persepsi yang dilakukan oleh individu terhadap kejadian atau keadaan dilingkungan yang menjadi sumber stress. Stress memberikan dampak positif dan negatif.
Stress digambarkan oleh Seyle (dalam Santrock, 2003, h. 560) merupakan sisi positif dari stress. Stress dapat menjadi pemicu seseorang untuk lebih maju dan berkembang (handoyo 2001: 62). Situasi stress juga dapat menghasilkan berbagai dampak yang negatif seperti kecemasan, rasa marah, agresi, apatis, dan depresi (Atkinson, dkk, 1996: 142). Perbedaan ini timbul akibat perbedaan individu dalam mempersepsikan situasi yang dihadapi. ke akhir tertentu. Menurut model sederhana yang Mc Grath usulkan, stres terdiri dari empat yaitu tuntutan lingkungan, tuntutan persepsi, respon stres dan konsekuensi perilaku.
Di sini kita singkat menjelaskan tahap-tahapannya.
Ø Tahap I: Tuntutan lingkungan
Pada tahap pertama dari proses stres, jenis dari tuntutan lingkungan ditempatkan pada individu. Tuntutan mungkin secara fisik atau psikologis, seperti ketika seorang siswa yang baru belajar bola volley, di suruh untuk melakukan keterampilan bermain bola voli di depan kelas atau bila orangtua menekan seorang atlet muda untuk memenangkan perlombaan.
Ø Tahap 2: Tuntutan persepsi
Tahap kedua dari proses stres adalah indicator dari tuntutan persepsi fisik atau psikologis.Tingkat kecemasan seseorang sangat mempengaruhi sifat bagaimana orang itu memandang dunia. Orang cenderung untuk melihat situasi lebih evaluatif dan yang kompetitif) sebagai ancaman dari orang yang lebih rendah-sifat-cemas lakukan. Untuk alasan sifat kecemasan pengaruh penting dalam Tahap 2 dari proses stres.
Ø Tahap 3 : respon stress
Tahap ketiga dari proses stres adalah individu fisik dan psikologis respon terhadap persepsi situasi. Jika persepsi seseorang dari suatu titik keseimbangan permulaan antara tuntutan dan kemampuan respon menyebabkan seseorang merasa terancam, semakin meningkatnya kecemasan sebagai suatu keadaan akan
akan mempengaruhi meningkatnya kekhawatiran (kognitif), fisiologis meningkat (somatic), atau keduanya. Reaksi lainnya juga, seperti perubahan dalam konsentrasi.
Ø Tahap 4 : konsekuensi perilaku
Tahap keempat adalah perilaku aktual dari indikatorl di bawah tekanan. mahasiswa voli merasa ketidakseimbangan antara kemampuan dan tuntutan dan terasa kecemasan sifat meningkat, apakah kinerja memburuk? Atau apakah kecemasan sebagai suatu keadaan meningkatkan intensitas meningkat usaha, Tahap akhir dari proses stres feed back ke dalam pertama. Jika seorang siswa menjadi terlalu terancam dan berkinerja buruk di depan kelas.
E. Mengidentifikasi Sumber Ketegangan dan kecemasan

Ada ribuan sumber spesifik stres. Psikolog menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan seperti pergantian pekerjaan atau kematian anggota keluarga, serta masalah dengan rekan kerja dapat menyebabkan stres dan mempengaruhi kesehatan fisik dan mental (Berger, Pargman, & Weinberg, 2002 ). Untuk atlet yang menyebabkan ketegangan antara lain (1) mengkhawatirkan tentang kemampuan untuk dapat melakukannya, keraguan diri tentang bakatnya, dan pemilihan tim, (2) pengaruh lingkingan seperti biaya ? keuangan dan waktu yang dibutuhkan untuk latihan, (3) pengaruh organisasi seperti kepemimpinan pelatih dan komunikasi, (4) bahaya fisik, (5) tingkah laku personal yang negative seorang pelatih, (6) hubungan atau pengalaman traumatik diluar olahraga disebabkan oleh seperti kematian anggota keluarga anggota atau hubungan - hubunganl negatif (Dunn & Syrotuik, 2003; Noblet & Gifford, 20O2; Scanlan, Stein, & Ravizza, l99l; Woodman & Hardy, 2001).
F. Stress Situasional

Ada dua sumber umum stres situasional yaitu (a) kepentingan peristiwa : semakin penting peristiwa tersebut maka semakin besar pula pengaruh stressnya, (b) ketidakpastian : semakin besar ketidakpastian maka semakin besar pula stress yang akan dialami. Lebih besar tingkatan ketidakpastian yang seseorang rasakan tentang hasil atau perasaan-perasaan lain dan evaluasi-evaluasi, semakin lebih besar pula keadaan gelisah dan stress. Reaksi kecemasan adalah sifat kecemasan tinggi dan rendah diri harga (Scanlan, 1986).
G. pencegahan terhadap berbagai macam penyebab stress.
Atlet dalam mengatasi stress atau situasi yang tidak menyenangkan, atlet seringkali melakukan upaya-upaya sebagai berikut: 1) merencanakan sesuatu pada penampilan mereka, apa yang akan terjadi sebelum atau selama pertandingan, 2) mempunyai kurang lebih satu alternatif perilaku untuk merencanakan aksi (Rushall, 1979). Orlick (1980) mengatakan bahwa cara terbaik untuk mencegah perasaan panik dan cemas adalah mulai berpikir tentang pemecahan masalah sebelum masalah itu tiba. Atlet dalam hal ini harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk memecahkan permasalahan tersebut. Atlet elit biasanya merencanakan dan menampilkan berbagai strategi coping selama latihan atau pertandingan, sehingga situasi pelatihan dan pertandingan berada dalam situasi stress yang terkendali. Selanjutnya Nicholas Holt (2005) menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam coping stress yaitu evaluation and strategic planning, proactive psychological strategies, dan reactive psychological strategies. Evaluasi dan Perencanaan Strategi. Dalam mengevaluasi dan merencanakan strategi coping, biasanya seseorang menggunakan tiga teknik yang memungkinkan dapat merencanakan strategi dengan efektif. Strategi tersebut adalah:
Ø Mempelajari lawan (learning about opponents). Strategi ini dilakukan atlet dengan tujuan untuk mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan dari pengalaman-pengalaman yang pernah diketahui sebelumnya. Atlet diharapkan 90% dapat mengetahui apa kekuatan dan kelemahan lawan. Bayangkan kembali apa yang telah diperbuat atau dicapai oleh lawan pada berbagai pertandingan sebelumnya, dan tentukan strategi apa yang harus dilakukan untuk menghadapi lawan tersebut.
Ø Reading new opponents (membaca lawan baru). Atlet dalam pertandingan biasanya dihadapkan dengan lawan tanding baru, sebelum atlet bertanding dengan lawan baru perlu menerapkan strategi dengan cara membaca lawan. Strategi ini penting karena atlet/pelatih dapat menilai lawan baru dengan cepat, misalnya melihat bagaimana cara lawan berdiri, menilai bahasa tubuhnya, sehingga atlet mengetahui apakah lawan benar-benar siap untuk bertanding atau belum. Atlet biasanya menggunakan berbagai informasi untuk mengeksploitasi kelemahan-kelemahan lawan.
Ø Understanding condition (memahami kondisi). Atlet belajar untuk memahami kondisi lingkungan, dan berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan kondisi lapangan untuk menerima berbagai tuntutan dalam pertandingan. Proactive Psychological Strategies Proaktive kepercayaan diri dan memelihara konsentrasi secara proaktif. Atlet yang proaktif akan menggunakan keterampilannya dalam mengantisipasi apa yang mereka butuhkan.
H. Cara mengurangi stress pada pemain
Para pemain sendiri seharusnya juga mengambil langkah-langkah untuk mengatur dirinya sendiri supaya rasa cemas bukan lagi menjadi gangguan. Para pemain sebagai individu yang menjadi korban dari rasa cemas ini, sudah sepantasnya memhami kondisi serta suasana hati yang sedang mengganggunya. Sebelum melaksanakan beberapa metode pengurangan rasa cemas di bawah ini, para pemain harus sadar dulu apa penyebab rasa cemas yang timbul. Menyadari penyebab akan sangat membantu para pemain dalam menguasai dan mengendalikan rasa cemas yang dialami. Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh para pemain untuk mengurangi rasa cemas:
Ø Fokuslah Pada Hal yang Bisa Dikontrol
Banyak sekali faktor dalam pertandingan sepakbola yang tidak mungkin dikontrol langsung oleh para pemain. Mulai dari penonton, tim tuan rumah, kenyamanan ruang ganti dan sebagainya. Namun sebenarnya ada juga faktor yang menentukan tapi tetap bisa dikontrol dan dikuasai dengan baik oleh para pemain. Faktor tersebut adalah taktik dan strategi yang sudah dilatihkan sebelumnya.
Dengan memfokuskan diri pada taktik dan strategi, para pemain akan dengan mudah mengabaikan beberapa hal yang menjadi sumber kecemasan, baik itu dari luar maupun dari dalam. Dukungan suporter lawan, kondisi tim lawan yang sedang dalam puncak penampilan adalah beberapa hal yang mungkin memunculkan rasa cemas. Dengan memahami dan berfokus pada strategi sekaligus kekuatan tim maupun kekuatan individu, pemain akan menemukan rasa percaya diri untuk menjalani pertandingan. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, rasa cemas akan hilang dengan sendirinya, karena mereka yakin bahwa mereka mampu untuk berbuat yang terbaik.
Ø Berpikir Praktis
Kecemasan kadang hadir karena pemain mempunyai bayangan-bayangan yang liar terhadap banyak hal yang melingkupi. Bahkan terkadang para pemain merasa sudah kalah sebelum bertanding. Hal itu karena bayangan-bayangan terhadap kekuatan sendiri dan kekuatan lawan yang tidak berimbang. Para pemain merasa tim lawan terlalu kuat, sehingga tidak mungkin mengalahkannya, atau mungkin merasa timnya terlalu lemah. Bayangan lain yang sering mengganggu adalah hasil pertandingan-pertandingan yang sudah lampau. Kekalahan demi kekalahan yang diderita sering mengganggu konsentrasi yang akhirnya menciptakan kecemasan.
Ketika berada dalam kondisi seperti itu, maka para pemain harus mampu untuk membuat pikiran yang sifatnya praktis. Menganggap bahwa sepakbola adalah sesuatu yang harus dinikmati adalah salah satu contohnya. Dengan menikmati permainan, maka para pemain tidak akan memikirkan hasil. Yang akan muncul adalah usaha yang maksimal untuk menikmati permainan tersebut. Ketika para pemain mampu menikmati permainan, maka kemampuan terbaik mereka akan muncul.
Dengan kondisi yang nyaman seperti itu, kecemasan akan sirna dari benak para pemain. Hasil pertandingan a dalah sesuatu yang membutuhkan proses. Semua hal masih bisa terjadi dalam waktu 90 menit pertandingan. PIkiran yang praktis akan mengarahkan pemain bisa berbuat lebih banyak dibandingkan jika terbebani dengan pikiran yang berisi tentang ketakutan-ketakutan atau kekuatiran-kekuatiran.
Ø Berfokus pada Tugas Dibanding Hasil
Sejalan dengan metode sebelumnya, memikirkan hasil pertandingan adalah sesuatu yang sangat menyita energi, baik energi fisik maupun energi emosional. Membayangkan sesuatu yang buruk akan berdampak pada kinerja di lapangan. Jika bayangan hasil yang muncul adalah kekalahan, maka para pemain akan mendapat suntikan energi negatif. Mereka tidak akan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, karena memang secara tidak sadar mereka sudah menganggap tidak perlu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Hal ini muncul karena hasil yang mereka bayangkan adalah kekalahan.
Jika hasil yang dibayangkan adalah kemenangan, mungkin saja para pemain mempunyai motivasi yang tinggi. Namun, efek negatifnya tetap saja sama. Dengan bayangan seperti itu, sangat mungkin para pemain sedang meremehkan kekuatan lawan. Akhirnya kemampuan terbaik tetap tidak akan muncul di lapangan. Mereka akan bermain terlalu santai dan tidak waspada. Jika ini terjadi, maka lawan yang mungkin memang lebih lemah akan sangat mungkin mencuri gol kemenangan. Membayangkan kemenangan tidak sama dengan membayangkan proses untuk meraih kemenangan.
Yang seharusnya dilakukan oleh para pemain adalah berfokus pada tugas yang harus dihadapi. Dengan focus pada tugas yang harus diemban, para pemain akan mempunyai bayangan tentang segala hal yang harus dilakukan. berfokus pada tugas akan meningkatkan kewaspadaan para pemain. Jika dia adalah seorang bek, maka dia akan lebih mempunyai bayangan tentang bagaimana harus mengawal pertahanan dan pemain penyerang lawan sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan fatal bisa diminimalisasi. Begitupun pada pemain penyerang. Tugasnya adalah mencetak gol. Dia harus berusaha dengan lebih keras agar halangan dari barisan pertahanan lawan bisa dilewati.
Fokus pada tugas juga akan meningkatkan kewaspadaan serta konsentrasi para pemain. Pemain yang lengah adalah keuntungan bagi lawan. Sebaliknya, pemain yang waspada dan konsentrasi akan merusak permainan lawan dan sangat mungkin membuat frustrasi para pemain lawan. Jika taktik seperti ini berjalan, maka kemenangan hanya akan tinggal menunggu waktu.
Ø Bergerak
Menurut banyak penelitian, bergerak dengan aktif akan bermanfaat untuk mengurangi kecemasan. Bergerak akan membantu mengalihkan perhatian. Jika diam, bayangan-bayangan yang potensial menyebabkan kecemasan akan muncul. Banyak para pemain elit dunia selalu melompat-lompat di kamar ganti sebelum menjalani pertandingan yang penting hanya untuk mengurangi rasa cemas yang mendera.
Pemanasan bisa menjadi solusi agar para pemain tetap bergerak. Pemanasan tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas untuk menyiapkan otot, tapi juga untuk menyiapkan mental agar tidak tegang. Orang yang tegang akan membuat otot-otot tubuh menjadi kaku. Demikian juga sebaliknya, orang yang hanya berdiam diri akan menyebabkan otot kaku, otot yang kaku cenderung membuat orang untuk berandai-andai. Untuk itu, menggerakkan otot akan membantu mengurangi rasa cemas.
Ø Melatih Teknik Kognitif
Dalam dunia psikologi, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan rasa cemas, ada beberapa teknik yang sudah terbukti ampuh. Teknik-teknik tersebut melibatkan aspek kognitif atau aspek proses otak. Sekali lagi, kecemasan merupakan proses mental yang melibatkan aktivitas otak dalam memprosesnya. Pemain yang merasa cemas adalah akibat dari persepsinya terhadap lingkungan sekitar dan dirinya sendiri. Pemain yang mempunyai ingatan-ingatan tidak mengenakkan tentang sebuah peristiwa mempunyai kecenderungan untuk merekamnya. Disaat situasi-situasi tersebut mempunyai kesamaan dengan situasi sekarang, maka seseorang akan kembali teringat dengan sesuatu yang buruk tersebut. Untuk mengubahnya, pemain perlu melakukan teknik untuk mereduksi munculnya ingatan-ingatan dan gambaran-gambaran tidak mengenakkan tersebut.
Ø Positive self talk
Membuat kata-kata positif pada diri sendiri. Pemain harus belajar berbicara pada dirinya sendiri dengan mengatakan kalimat-kalimat yang bersifat positif. Kalimat seperti “Kamu mampu melakukan!”, “Saatnya membuat perubahan!” atau “Kamu punya keahlian untuk menang!” adalah kalimat yang penting dalam rangka mengurangi kecemasan.
Ucapan-ucapan seperti itu sebenarnya untuk mengalihkan persepsi dari para pemain agar tidak selalu berfokus pada kelemahan. Fokus pada kelemahan akan menyebabkan mental menjadi drop. Dengan ucapan-ucapan pada diri sendiri seperti itu, maka gambaran positif akan muncul pada diri sendiri.
Ø Berhenti Berpikir
pemain harus mampu mengatakan berhenti berpikir pada diri sendiri ketika mulai membayangkan dan memikirkan hal-hal yang buruk. Pikiran-pikiran buruk akan menyebabkan turunnya moral dan merendahkan kepercayaan diri.
Ø Imagery Training
Imagery training adalah latihan visualisasi. Sederhananya, pemain harus membayangkan secara detil tiap kejadian yang mungkin terjadi dilapangan. Hal ini berguna untuk membuat gambaran yang lebih logis baik tentang kekuatan maupun kelemahan. Pembayangan tentang kekuatan berguna supaya bisa diaplikasikan dalam pertandingan, sedangkan tentang kelemahan berguna agar pemain mencari solusi atas kelemahan tersebut.
Banyak penelitian membuktikan bahwa imagery training ampuh untuk meningkatkan motivasi, optimisme sekaligus mengurangi kecemasan yang muncul. Teknik ini harus dilakukan di tempat yang nyaman sekaligus minim gangguan. Pemain harus berada dalam posisi yang paling nyaman dengan seluruh tubuh merasa rileks. Gambaran-gambaran yang dibuat juga harus detil hingga pada warna dan bau.
Untuk bisa menguasai teknik ini dengan baik, sebaiknya pertama-tama pemain dan pelatih harus mendapat pendampingan dari ahli sehingga proses imagery berjalan dengan benar. Setelah itu, pelatih yang memegang kendali. Catatan lain, latihan ini harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga para pemain menjadi mahir menggunakan teknik ini.
Jika beberapa metode di atas bisa dilaksanakan oleh para pemain dan pelatih dalam menatap pertandingan, maka kecemasan bukan sesuatu yang meresahkan lagi. Sebaliknya, energi yang muncul seiring dengan rasa cemas tersebut bisa diubah menjadi kekuatan dan motivasi yang berguna untuk memenangkan sebuah pertandingan.
I. Hubungan antara kegairahan dan kecemasan terhadap penampilan
Meningkatnya kegairahan dan keadaan gelisah (state anxiety) menyebabkan meningkatnya tekanan otot dan kelelahan sehingga mempengaruhi koordinasi. Secara sederhana, anxiety memberi pengaruh yang cukup besar terhadap penampilan seorang atlet. Menurut teori hipotesis U-terbalik maka penampilan seorang atlet akan semakin bagus saat tingkat kecemasan mulaimeningkat. Namun, saat tingkat kecemasan mulai naik dan terus naik, kecenderungan penampilan akan menurun.
Namun, tingkat kecemasan dan stress antara satu orang dengan orang lain berbeda. Ada beberapa hal yang membedakan tingkat kecemasan atlet. Yang pertama adalah pengalaman. Atlet yang lebih berpengalaman terbukti memiliki level kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan atlet yang baru saja masih amatir. Yang kedua adalah situasi dan kondisi kompetisi. Kompetisi yang bersifat lebih tinggi tingkatnya cenderung menyebabkan meningkatnya tingkat kecemasan bagi seseorang. Sebagai contoh level kejuaraan dunia ternyata lebih stressful dibanding dengan kejurnas. Selain level kompetisi, fase kompetisi itu sendiri juga memberi pengaruh yang cukup besar. Dalam kompetisi sepakbola yang berformat liga, situasi yang cenderung membuat cemas adalah saat-saat kompetisi mendekati akhir dengan nilai yang tidak terpaut jauh sehingga masih ada kemungkinan mengejar atau dikejar.
Level kecemasan juga dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan diri seorang pemain. Pemain yang secara alamiah mempunyai tingkat kepercayaan diri tinggi memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan atlet yang rasa percaya dirinya rendah. Jenis olahragajuga memberi sumbangan terhadap tingkat kecemasan. Olahraga yang bersifat individual menciptakan tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan cabang olahragatim (Humara, 1999). Hal ini wajar karena perasaan mempunyai teman akan membuat lebih tenang dan focus tidak terpusat pada dirinya. Hal terakhir yang mempengaruhi tingkat kecemasan adalah jenis kelamin. Menurut beberapa penelitian, atlet perempuan lebih cenderung mempunyai tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan atlet laki-laki (Thuot, Kavouras, & Kenefick., 1998).
Para psikolog Olahraga telah mempelajari hubungan kecemasan dan kinerja selama beberapa dekade mereka belum mencapai kesimpulan yang pasti, tetapi mereka memiliki titik terangi aspek proses yang memiliki beberapa implikasi untuk membantu orang dan melakukan lebih baik. Sekitar 50 tahun yang lalu, para peneliti berkonsentrasi pada teori dorongan, yang kemudian digunakan pada 1960-an dan 1970-an. Pada seperempat abad yang lalu psikolog telah menemukan hipotesis terbalik-U, dan baru-baru ini mereka telah mengusulkan beberapa variasi dan hipotesis yang lebih baru, termasuk konsep zona berfungsi optimal, fenomena bencana, pembalikan teori dan arah dan intensitas kecemasan melihat-Kita membahas masing-masing secara singkat ini.
Ø Teori Dorongan
Psikolog pertama kali melihat hubungan antara gairah dan kinerja sebagai hubungan langsung dan linier (& Spence, 1966). Menurut pandangan ini, yang disebut teori dorongan, sebagai gairah individu atau kecemasan sebagai suatu keadaan . Teori fasilitasi sosial berpendapat bahwa kehadiran penonton dapat memiliki efek positif atau efek negatif . sementara itu teori dorongan yang dikemukakan oleh Hull tahun 1943 bahwa penampilan merupakan hasil dari dorongan dengan reaksi motorik ( P = P X D)
Ø Teori U terbalik
Teori ini disebut sebagai hukumYerkes-Dodson (1908) ini mengajukan pandanagn tentang hubungan berbentuk U terbalik antara kegairahan dan penampilan didasarkan oleh derajat optimimasi keterampilan tertentu. Teori ini mengemukakan bahwa jika kegairahan ditingkatkan sampai batas tertentu maka penampilan pada suatu saat akan mencapai titik optimal. Kemudian jika kegairahan terus ditingkatkan maka kinerja penampilan akan menurun secara bertahap.
Ø Teori zona fungsi optimal (ZOF)
Hanin (1980) menyatakan bahwa masing-masing atlet memiliki zona optimal kecemasan sesaat dan jika atlet berada pada zona tersebut ia akan tampil secara maksimal. Teori ZOF memiliki perbedaan dasar dengan teori U terbalik yaitu zona kecemasan sebagai wilayah saat atlet tampil maksimum tidak senantiasa berada ditengah parabola. Perbedaan yang lain
Ø Teori Kecemasan Multidimensional
Ø Teori Bencana
Teori ini hamper sama dengan teori U terbalik. Teori ini menjelaskan jika ditingkatkan maka penurunan kinerja penampilan atlet bukan berlangsung secara bertahap namun secara drastis.
Ø Teori pembalikan
Teori ini diajukan oleh Kerr (1985) mengemukakan bahwa kegairahan mempengaruhi penampilan ditentukan oleh interprestasi individu terhadap kegairahan tersebut. Dengan contoh jika atlet menghadapi lawan dan atlet tersebut tidak memiliki kesiapan yang cukup maka yang dialaminya adalah kondisi cemas.
J. Penggunaan Pengetahuan Untuk Praktek
Anda dapat mengintegrasikan pengetahuan Anda tentang gairah, stres, dan kecemasan dengan mempertimbangkan praktek bagi profesional. Lima dari pedoman yang paling penting adalah
1. Mengidentifikasi kombinasi yang optimal dari emosi terkait gairah yang diperlukan
untuk kinerja terbaik
2. Kenali bagaimana faktor-faktor pribadi dan situasional berinteraksi untuk
mempengaruhi gairah, kecemasan, dan kinerja.
3. Mengenali tanda-tanda gairah meningkat dan kecemasan peserta olahraga dan
olahraga.
4. Mengadakan pembinaan dan praktek instruksional untuk individu.
5. Mengembangkan kepercayaan untuk membantu mereka mengatasi ketegangan dan
kecemasan.
K. Akibat Dari Kecemasan
Kecemasan berpengaruh terhadap diri seseorang baik berupa gangguan fisiologis dan non fisiologis. Beberapa ahli menjelaskan bahwa kecemasan mengakibatkan gangguan. Menurut Rita L Atikson (1983: 329) menyebutkan bahwa seseorang yang menderita gangguan kecemasan tiap hari hidup dalam keadaan tegang, dia selalu akan merasa serba salah atau khawatir dan cenderung memberi reaksi yang berlebihan pada stress yabg ringan, keluhan fisik yang lazim antara lain adalah tidak dapat tenang, tidur terganggu, kelelahan, macam – macam sakit kepala dan jantung berdebar – debar.
Kartini Kartono (1981: 117) mengemukakan bahwa gangguan – gangguan psikis gejala – gejala kecemasan antara lain: gemetar, berpeluh dingin, mulut menjadi kering, membesarnya pupil mata, sesak nafas, percepatan nadi dan detak jantung, mual, muntah, murus atau diare, dll. Sedangkan Singgih D. Gunarsa (1996) menjelaskan kecemasan pada 0olahragawan dicirikan dengan gejala – gejala seperti berkeringat berlebihan walaupun udara tidak panas dan tidak beraktivitas olahraga, jantung berdebar keras, dingin pada tangan dan kaki, menggalami gangguan pencernaan, merasa mulut kering, merasa tenggorokan kering, tampak pucat, sering buang air kecil melebihi batas kewajaran, sering mengeluh pada persendian, sering terkejut.
BAB III
KESIMPULAN
Dengan mengetahui tentang berbagai macam uraian tentang kegairahan, ketegangan, dan kecemasan dapat disimpulkan bahwa kegairahan, ketegangan, dan kecemasan merupakan suatu kondisi yang terjadi dalam kehidupan dan tidak terhindarkan pula pada suatu aktifitas jasmani dan olahraga. Dalam olahraga kompetitif kegairaham, ketegangan, dan kecemasan memegang peranan penting terhadap penampilan atlet. Kegairahan memiliki kecenderungan positif dan ketegangan dan kecemasan memiliki kecenderungan yang negatif.
Para pelaku olahraga seperti pelatih, atlet, guru pendidikan jasmani, penonton olahraga harus mengetahui mengetahui teori – teori yang berhubungan debgan kegairahan, ketegangan, dan kecemasan sehingga dapat mencari dan menemukan solusi yang dibutuhkan untuk mencapai penampilan yang terbaik. Kecemasan tidak dapat dihilangkan tetapi bagaimana cara mengatasi dan meminimalisirnya adalah hal terpenting yang perlu untuk diperhatikan. Hal – hal yang sering menjadi pemicu kecemasan dapat diminimasilir dengan persiapan yang cukup dalam latihan dan mengkondisikan olahragawan pada model pertandingan yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA
Atikison L. Rita, dkk (1983). Pengantar psikologi. Jakarta : Erlangga.
Kartini Kartono. (1981). Gangguan-gangguan Psikologi Olahraga. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Singgih D. Gunarso. (1996) Psikologi Olahraga Teori dan Praktek. Jakarta: Gunung Mulia.
Weinberg and Gould. (2007). Foundations of Sport and Exercise Phychology. Human Kinetics.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar