Jumat, 30 November 2012

Prestasi Olahraga Tak Lepas dari Pakar Pendidikan




Jumlah guru besar bidang olahraga di Indonesia  masih sedikit dibandingkan dengan Cina. Di Indonesia, jumlahnya tidak lebih dari 30 orang, sedangkan di Cina mencapai 300 orang. Demikian diungkapkan Prof Djoko Pekik Irianto, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga pada Seminar Internasional Sport Science 2012 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes), di Hotel Grand Candi, akhir pekan lalu.
Kegiatan dibuka oleh Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Masrukhi dan dihadiri ratusan peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, dan praktisi bidang olahraga.
Hadir pembicara lain Prof Dr Supranee Kwanboonchan dari Universitas Srinakharinwirot Thailand, Prof Chia-Hua Kuo (Universitas Taipei),  dan Chang Kim keun dari Korea.
“Melihat kondisi semacam itu, wajar jika prestasi yang diraih Cina dalam bidang olahraga lebih unngul dibandingkan dengan prestasi Indonesia,” kata Prof  Djoko Pekik Irianto.
Prof  Djoko Pekik mengimbau kalangan akademisi supaya mengembangkan kerja sama dengan luar negeri untuk mengirimkan dosen-dosen olahraga studi lanjut bisa ke Cina, Jepang, atau beberapa negara lain.
Prof Supriadi Rustad dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengatakan, publikasi karya ilmiah Indonesia dibandingkan dengan negara berkembang lain jauh tertinggal.
“Publikasi karya ilmiah Indonesia dari 1996 sampai dengan 2010 jika dilihat dari grafik itu tampak merayap. Lain halnya di negara berkembang lain, grafiknya tampak menanjak naik, padahal start-nya bersamaan,” kata Prof Supriadi.
Prof Supriadi mengajak para peserta seminar untuk mulai membudayakan menulis dan publikasi untuk menyejajarkan diri dengan negara berkembang lain.
“Ki Joko Bodo yang mengaku bodo saja tulisannya banyak. Di antara buku karyanya adalah Rapal Rahasia Jampi-Jampi Ki Joko Bodo (2009), Buku Paranormal (2012), Pelet Ki Joko Bodo, Ilmu Gendam Putih, dan masih banyak lagi buku tulisannya,” sindir Prof Supriadi.
Harry Pramono MSi, Dekan FIK Unnes yang juga Sekretaris Forum Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) se-Indonesia mengatakan, salah satu kendala kurang majunya prestasi atlet adalah jumlah guru besar bidang olahraga di Indonesia masih sangat sedikit. “Pakar bidang olahraga turut memengaruhi majunya prestasi olahraga suatu negara karena perkembangan olahraga tidak bisa dipisahkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Read more »»  

Prestasi Olahraga

Mau tahu siapa saja yang pernah mengukir prestasi olahraga di Indonesia? Nesi berhasil mengumpulkan beberapa cabang olahrgaga yang atletnya mengukir sejarah.
panahan
Rina Dewi Puspita Sari, salah satu atlet panahan Indonesia. Foto: antarafoto.com
Panahan
Di cabang panahan, pengukir prestasinya adalah tiga orang perempuan. Namanya Nurfitriyana Saiman Lantang, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani.
Mereka adalah tiga srikandi yang memenangkan medali olimpiade pertama untuk Indonesia.
Prestasi: Medali perak beregu Olimpiade Seoul, Korsel 1988
Bulutangkis
Cabang bulutangkis Indonesia selalu dijagokan. Mengapa? Karena atlet-atletnya memiliki prestasi yang cemerlang. Berikut beberapa atlet yang menjadi primadona di masanya.
susi susanti
Susi Susanti berlaga di Olimpiade Atlanta. Indonesia pun menang emas pertamanya.
1. Susi Susanti
Atlet perempuan ini memberikan Indonesia medali emas olimpiade pertamanya.
Prestasi:
- Juara tunggal putri bulutangkis Olimpiade Barcelona, Spanyol (1992)
- Juara All England empat kali (1990, 1991, 1993, 1994), dll.
2. Icuk Sugiarto
Legenda tunggal putra bulutangkis Indonesia bersama Liem Swie King, Lius Pongoh, Hastomo Arbi, Kartono,dll. Jejak prestasi Icuk Sugiarto dilanjutkan oleh suami Susi Susanti, Alan Budikusuma. Alan memenangkan medali emas Olimpiade Atlanta (1996) kategori tunggal putra.
Prestasi:
- Juara Dunia tahun 1983 dan 1986
3. Ricky Subagja & Rexy Mainaky
Ganda putra Indonesia yang pertama kali memenangkan medali emas olimpiade.
Prestasi:
- Medali emas Olimpiade Atlanta, 1996
- Juara Dunia tahun 1993-1994
- Medali emas Asian Games (Hiroshima, 1994 & Bangkok, 1998)
ellyas pical
Ellyas Pical, The Exocet
Tinju
1. Ellyas Pical
Pukulan Hook dan Uppercut kirinya yang cepat dan keras, membuat Ellyas Pical dijuluki "The Exocet" oleh pers. Nama julukan itu diambil dari nama rudal Perancis lho. Terbayang kan cepat dan dahysatnya.
Prestasi:
- Juara I PON X Jakarta (1981)
- Juara I kelas super bantam versi OPBF. Lawan: Hee Yun Chun dari Korea Selatan dan Matsuo Watanabe dari Jepang (1984 )
- Juara dunia kelas super terbang versi International Boxing Federation (IBF). Lawan: Ju Do Chun dari Korea Selatan dan Wayne Mulholland dari Australia (1985)
- Juara dunia kelas super terbang versi IBF. Lawan: Cesar Polanco dari Republik Dominika (1986)
- Juara Dunia kelas bantam junior versi IBF. Lawan: Tae-ill Chang dari Korea Selatan (1987)

chris john
Wah, banyaknya sabuk kemenangan Chris John!
2. Chris John
Setelah Indonesia lama tak mempunyai juara tinju yang bisa dibanggakan, Chris John muncul. Hingga kini, prestasinya masih terus bertambah.
Prestasi:
- Juara Dunia WBA sementara (2003). Lawan: Oscan Leon dari Kolombia.
- Juara Dunia WBA.
Angkat Besi
Cabang angkat besi mungkin terdengar untuk laki-laki saja. Namun ternyata ada juga atlet angkat besi perempuan yang berprestasi. Namanya Raema Lisa Rumbewas.
Prestasi:
1. Medali perak untuk kategori angkat besi putri, kelas 53 kg Grup A (Olimpiade Athena, 2004)
2. Medali perak di Olimpiade Sydney, 2000.
3. Medali perak di SEA Games XXI.
yayuk basuki
Belum ada lagi petenis Indonesia sehebat Yayuk Basuki.
Tenis
Kalau kamu suka main tenis, pasti tahu siapa Yayuk Basuki. Dia adalah petenis Indonesia pertama yang menjuarai turnamen profesional.
Prestasi:
1. Posisi ke-19 dunia untuk bagian tunggal dan ke-9 untuk bagian ganda.
2. Enam gelar tunggal Tur WTA dan sembilan gelar dari ganda.
3. Dalam turnamen Grand Slam berhasil mencapai babak perempat final Wimbledon pada tahun 1997.
Renang
1. Richard Sambera
Perenang ini telah ikut serta dalam beberapa olimpiade dan kejuaraan renang nasional maupun internasional. Richard Sambera juga pemegang beberapa rekor nasional dan Sea Games untuk beberapa cabang renang.
Prestasi:
- Pemenang Medali Emas di Sea Games untuk cabang renang 100m pada tahun 1989, 1991, 1995, 1997, 1999, 2001 dan 2005
- Pemegang Medali Emas di Sea Games untuk cabang renang 50m pada tahun 1995, 1997, 1999 dan 2001
- Pemegang Medali Perunggu di Asian Games Beijing untuk cabang 100m pada tahun 1990

dede suryana
Indonesia punya surfer hebat juga lho. Dede Suryana. Foto: quicksilver
2. Elfira Rosa Nasution
Mantan perenang nasional ini dikenal selalu membawa buku pelajaran ke kolam renang. Jadi meskipun aktif berenang, dia tidak pernah ketinggalan pelajaran di sekolah.
Prestasi:
- PON XI, Jakarta, meraih 8 emas dan 2 perak (1985)
- Medali perak di Asian Games 1983 di Seoul, Korea Selatan.
Selancar
Dede Suryana
Selancar lebih dikenal dengan bahasa Inggrisnya, surfing . Atlet selancar atau surfer Indonesia, Dede Suryana, tidak kalah dengan orang barat lho. Dede pernah mengalahkan juara dunia delapan kali, Kelly Slater.
Prestasi:
- Medali emas cabang selancar kelas Aerial Putera, Asean Beach Games 2008, Kuta, Bali
- Juara TODD Chesser Memoriam, Hawaii tahun 2003.

ola sulaksana
Oka Sulaksana, atlet selancar angin Indonesia. Foto: antarafoto.com
Selancar Angin
I Gusti Made Oka Sulaksana
Oka dikenal sebagai atlet yang tak pernah menyerah. Meski sudah diberi jadwal latihan, Oka selalu berlatih sendiri sebagai tambahan.
Prestasi:
- Medali emas Asian Games 1998 dan 2002
- Medali emas SEA Games 1989, 1993, 1995, dan 2001
- Medali emas PON 1989, 1993, 1996, 2000, 2004
- Peringkat 11 Olimpiade Atlanta, 1996
- Peringkat 13 Olimpiade Sydney, 2000
- Peringkat 15 Olimpiade Athena, 2004.
Prestasi atlet Indonesia tidak berhenti di sini. Masih banyak yang belum Nesi masukkan. Apakah kamu tahu persamaan semua atlet di atas? Mereka semua cinta olahraga, disiplin belajar dan latihan, tidak pernah menyerah, sportif, dan membanggakan negara.
Mungkin kamu akan jadi atlet nasional berikutnya?
Read more »»  

Antara Politik, Olahraga dan Hukum di Negeri Ini


13035403091899726783

Ketidak mampuan Pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah dalam negeri ini menyebabkan  bidang politik, olahraga dan hukum di negeri ini kacau dalam sistemnya . Hal itu terlihat di pemberitaan media massa maupun media cetak lainnya, dimana selalu mencampur adukan ketiga hal tersebut, yang pada notabenya berbeda, namun justru terkesan menjadi satu dalam sebuah drama di kalangan orang besar di negeri ini.
Bagi orang awam memang cerita miris tentang kacaunya sebuah sistem, bahkan sistem pemilihan atau pengadilan di negeri ini biasa – biasa saja. Namun tidak dengan orang yang kritis, mereka akan dengan senang hati mengkritik sebuah kekeliruan, ketidak jelasan sebuah masalah yang timbul di permukaan, baik itu masalah politik, olahraga maupun hukum.
Diketahui akhir – akhir ini banyak kasus yang sangat mencolok yaitu ketidak jelasan kasus hukum orang – orang besar yang menggelapkan uang Negara lah, memanipulasi uang rakyat lah, penyuapan pejabat teras pengadilan lah. Memang dari banyak kasus tidak banyak yang ditanggapi secara serius oleh orang awam, mereka hanya tahu bahwa negara kita sedang kacau? Memilukan dari sistem pemerintah yang sudah dibangun bertahun – tahun tetapi masih saja ada problem – problem seperti itu.
Politik di negeri ini memang sangat dominan bila dibandingkan dengan aspek olahraga dan hukum di negeri ini. Para politikus memang cenderung menguasai negeri ini, terbukti banyaknya kasus yang mengikutnamakan politikus dalam negeri ini. Mereka dengan kekuatannya membentuk komunitas yang digunakan untuk bisa menguasai dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa membawa Indonesia maju. Tetapi semoga memang itu yang menjadi tujuan para politikus di negeri ini, agar Indonesia maju nantinya.
Olahraga di negeri ini sedikit turun pamornya karena berbagai masalah yang muncul ke permukaan, yang paling mencolok adalah gunjing – ganjingnya kepengurusan PSSI. Masalah bermula dari banyaknya masyarakat yang menginginkan ketua umum PSSI untuk mundur, tetapi karena teguh kepada pendiriannya ketua umum PSSI tidak setuju untuk mundur hingga muncullah banyak masalah baru yang membuat image PSSI semakin jelek di kalangan masyarakat. Sampai kini pun pemilihan ketua PSSI belum memcapai kata final, dengan adanya panitia normalisasi kita harapkan semua kekeliruan akan menjadi terselesaikan dan meloloskan calon ketua umum PSSI yang nantinya akan membuat dunia olahraga Indonesia maju dan dapat berbicara banyak di kancah Internasional.
Hukum di negeri ini memang susah ditegakkan, mengapa saya katakan demikian? Karena kesadaran akan mematuhi tata tertib hukum di negeri ini masih lemah. Terbukti dengan banyaknya kasus kriminal yang terjadi di negeri ini. Banyak kasus yang mencolok yang membawa urusan hukum dengan urusan politik, karena terdakwa justru memperoleh keringanan dalam masa hukuman karena adanya dugaan rekayasa dalam proses penyelidikan kasus. Banyak kasus seperti itu yang muncul, tetapi semoga masalah yang seperti itu tidak muncul lagi dan kita berharap para penegak hukum tidak mencampur adukkan masalah hukum dengan masalah politik. Agar tidak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat luas tentunya.
Berbagai cara dilakukan Pemerintah agar masalah yang timbul di negeri ini terselesaikan. Baik masalah politik, olahraga maupun hukum, hendaknya tiap individu di negeri ini mengerti dan tidak memancing timbulnya pro dan kontra karena dengan saling mengerti maka masalah yang timbul pun akan semakin kecil kemungkinannya apalagi kalau semua individu yang ikut di dalamnya mempunyai rasa jujur yang tinggi pasti akan maju negeri kita ini.
Marilah kita doakan agar semua masalah politik, olahraga maupun hukum yang ada di negeri ini cepat terselesaikan agar rakyat Indonesia bisa merasakan kehidupan yang aman tentram dan sentosa.
Read more »»  

Semua Orang Merasa Tahu, Prestasi pun Jeblok

http://jadhie.files.wordpress.com/2011/03/pssi.jpg?w=279&h=300
SEJAK lama benak masyarakat Indonesia digelayuti pertanyaan, mengapa prestasi olahraga nasional dari tahun ke tahun cenderung terus menurun? Hingga kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung?
Setelah merenung, menelaah, dan menelisik banyak aspek, ditambah dengan berita "geger PSSI" beberapa hari terakhir ini, saya sampai pada sebuah rumusan hipotesis. Kemerosotan keolahragaan di Indonesia bukan disebabkan minimnya tokoh yang mumpuni dalam bidang tersebut.
Bukan pula karena kurangnya ahli yang menguasai ilmu keolahragaan. Justru masalah itu terjadi disebabkan bumi Indonesia tercinta ini dipenuhi 200 juta orang yang semuanya "merasa" tahu, mampu, dan pantas mengurus serta mengolah urusan olahraga.
Oleh sebab raga dimiliki semua orang, maka semua pemilik raga tentu merasa berhak mengolah-raganya. Dan karena setiap orang merasa punya hak mengolah-raganya masing-masing, mereka juga merasa sudah tahu mengenai olah-raga. Yang dilupakan adalah mengolah-raga tak sama dengan olahraga. "Merasa tahu" juga ternyata belum tentu tahu, "merasa bisa" tak selamanya terbukti benar-benar bisa melakukan.
Bahkan yang "dianggap bisa" juga ternyata tak selamanya terbukti bisa. Olahraga nasional di Indonesia inilah buktinya. Saking banyaknya orang yang merasa tahu, susah sekali menemukan sedikit saja orang yang benar-benar tahu tentang olahraga.
Itulah uniknya olahraga di Indonesia, seperti mata uang koin. Satu benda yang memiliki dua wajah berbeda. Di satu sisi memiliki wajah yang tampaknya mudah dikuasai oleh semua orang. Di sisi yang lain ternyata menunjukkan bentuk yang sungguh sulit ditaklukkan.
Di satu sisi urusan olahraga di bumi Indonesia ini adalah urusan "remeh-temeh" yang menjadi prioritas entah keberapa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi di sisi lain, seluruh rakyat dari jelata hingga penguasa kebakaran jenggot saat kontingen Indonesia terpuruk di arena internasional.
Di satu sisi, APBN, APBD, dan sumber dana lain sungguh sulit mengucur guna membiayai kegiatan olahraga. Namun, para pejabat teras baik di teras nasional maupun teras daerah memberi beban prestasi gilang-gemilang kepada para pelaku olahraga.
Pada saat cabang-cabang olahraga penyumbang medali pengharum kedigdayaan bangsa dan negara tertatih-tatih mencari dana dan dukungan, semua pihak memalingkan muka. Tetapi pada saat satu cabang olahraga yang performanya bahkan seringkali memalukan merintih memohon dana, banyak pihak menyatakan prihatin, menunjukkan simpati, dan sibuk melakukan lobi. Masih ada lagi isu yang menarik untuk dikupas. Berpuluh tahun didamba lahirnya undang-undang untuk mengatur dan melindungi kehidupan berkeolahragaan di Indonesia.
Setelah terbit, malah mendatangkan silang sengkarut pemahaman dan pelaksanaan. Aturan yang mengatur agar pejabat publik tak menduduki jabatan ketua dalam organisasi keolahragaan mendatangkan banyak protes dan kembali melahirkan banyak orang yang merasa tahu bagaimana mengurus olahraga di Indonesia.
Yang tak banyak (mungkin) diketahui oleh mereka yang merasa tahu, adalah fakta bahwa dari "sono"nya organisasi olahraga seharusnya adalah lembaga independen semacam lembaga swadaya masyarakat.
Tetapi di Indonesia, dalam 30 tahun terakhir ini, sudah menjadi kelaziman bahwa pengelolaan organisasi olahraga "dibebankan" kepada para pejabat teras. Mereka yang dengan senang hati kemudian menyandang kedudukan sebagai ketua harian, ketua umum, dan sekretaris jendral berbagai organisasi keolahragaan. (78)
-Tandiyo Rahayu, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes
Read more »»  

Pesta Proyek Sarana Olah Raga


http://batim.files.wordpress.com/2007/11/sor.jpgMantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault dalam suatu wawancara di Metro TV pernah mengatakan bahwa rencana semula, Sea Games hanya akan diselenggarakan di tiga daerah di Pulau Jawa, maka Adhyaksa  merasa terkejut setelah tidak menjadi Menteri ternyata Sumatera Selatan yang tadinya tidak termasuk, kemudian dimasukkan menjadi salah satu daerah penyelenggara Sea Games. Tapi sekarang tidak perlu terkejut lagi semua orang sudah tahu tentang korupsi yang terjadi dalam pembangunan fasilitas olah raga di sana. Kalaupun bisa ditarik hikmahnya maka itu adalah terbongkarnya kedok Nazaruddin, kalau tidak tentu sampai sekarang si Nazar masih berkeliaran dari suatu proyek ke proyek lain. Mungkin kalau penyelenggara Sea Games hanya di tiga daerah di Jawa, proyeknya kecil, cuma renovasi,  tapi kalau Sumsel dimasukkan akan ada proyek baru yang dananya bisa dibikin besar dan tentu saja bisa dimainkan.Itulah kecenderungan berfikir  penguasa sekarang baik di pusat maupun di daerah,  berburu proyek.
Lalu ada Proyek besar, pembangunan pusat olah raga Hambalang yang tadinya sepertinya dibangun  secara diam-diam tapi berkat kicauan Nazaruddin, Hambalang meledak. Proyek prestisius yang sarat dengan Kolusi ini  diduga  melibatkan orang ternama baik di eksekutif, legis latif, partai politik, dan tentu saja para pejabat di daerah. Orang-orang yang tadinya kelihatan  santun,  ternyata, uh! Rakusnyaaa… Dugaan korupsi di proyek ini tidak main-main, ratusan miliar, padahal proyek yang bernilai triliunan ini dibangun di atas tanah yang labil. Walapun mereka tahu itu   proyek tetap dijalankan. Rupanya untuk meraup uang proyek sebesar-besarnya mereka kehilangan akal sehat, tidak memikirkan akibat jangka panjang dari proyek tersebut.
Sekarang PON diselenggarakan di Riau, jadi ada proyek besar pesta olah raga.  Maka sama dengan proyek pesta olahraga lainnya, di korup. Beberap orang pejabat baik dari  eksekutif maupun legislatif di daerah maupun di pusat diduga terlibat, KPK telah menahan beberapa orang anggota  DPRD Riau dan Kepala Dinas Olahraga setempat terkait dugaan adanya suap untuk memperlancar keluarnya anggaran.
Lalu kalau bicara soal kualitas bangunan, masyarakat tentu masih ingat ketika tribune penonton  tenis lapangan yang akan digunakan untuk Sea Games Palembang amblas sebelum digunakan. Salah satu bangunan ambruk pada proyek Hambalang pada hal bangunan “belum diapa-apain.” Tak kalah serunya di Riau, pintu kaca kanopi gerbang masuk arena tenis jatuh sehingga menciderai beberapa orang pekerja. Bayangkan kalau kejadian-kejadian seperti itu terjadi ketika arena sedang digunakan. Jadi jangan bicara soal kualitas bangunan yang proyeknya penuh dengan kolusi dan dikorupsi.
Apakah setelah pembangunan sarana olah raga yang modern itu lantas prestasi olah raga bisa meningkat? Seharusnya. Tapi apa yang terjadi? Berdasarkan laporan surat kabar Kompas, ternyata di Samarinda, setelah PON usai, banyak arena dibiarkan terbengkalai bahkan arena kolam renang yang dibangun dengan biaya mahal sekarang digunakan sebagai penadah air hujan, padahal biaya proyek pembangunan sarana olah raga PON itu tidak sedikit, 3,5 T.
Menyelenggarakan PON di daerah memang baik agar ada pemerataan  pembinaan olah raga. Tapi kalau tujuan itu dikotori oleh pejabat yang mencoba  mencari keuntungan dari dana proyek yang jumlahnya besar, nasibnya akan sama dengan Arena PON di Samarinda, setelah pesta usai, perhatian terfokus menciptakan proyek yang lain lagi.  Tak bisa dipungkiri bahwa  kecenderungan pejabat pada saat ini memang demikian, mencari dana sebesar-besarnya untuk mempertahankan kedudukannya.
Oleh sebab itu, pada masa mendatang perlu dipikirkan kemungkinan  PON kembali diselenggarakan  di Jakarta saja yang sudah memiliki sarana lengkap, tak perlu membangun arena baru, cukup merenovasi arena lama.
PON baru boleh diselenggarakan kembali di daerah secara bergiliran apa bila para pejabat Indonesia baik dari eksekutif, legislatif yang mewakili parpol, pusat maupun daerah,   menyelenggarakan pertobatan nasional, dan berjanji bahwa  pada masa mendatang mereka akan berkelakuan baik dan akan menjadikan korupsi sebagai perkara yang sangat menjijikkan.
Read more »»  

Menata Kembali Olahraga Aceh

http://bpp-pnb-palembang.net/tinymcpuk/gambar/Image/2012/peresmian%20gedung/peresmian_3_GSG.jpg

Oleh Nyak Amir

OLAHRAGA telah menjadi perhatian banyak pihak, tidak saja bagi insan-insan olahraga, tetapi juga birokrat, militer, pengusaha, intelektual, insan pers, dan masyarakat umum. Olahraga telah masuk ke dalam domain publik dan bukan lagi merupakan monopoli mereka yang mengaku insan olahraga semata. Sebagian dari mereka berpandangan olahraga indentik dengan prestasi, sehingga kalau membangun olahraga berarti membangun olahraga prestasi. Sementara sebagian yang lain berpandangan bahwa olaharga yang diperuntukan bagi semua orang (sport for all) lebih bermanfaat bagi bangsa yang sedang membangun.

Masalah pembangunan keolahragaan harus ditelaah dan dipahami, serta dicari solusinya dari sudut pandang yang luas dan mendasar. Dari kacamata kesisteman, sangat dipahami bahwa hasil pembinaan dalam subsistem olahraga kompetitif yang menekankan pencapaian dan peningkatan prestasi terkait langsung dengan subsistem lainnya, yakni pendidikan jasmani (termasuk pendidikan olaharga) dan olahraga masyarakat. Semua subsistem itu harus dibina dan dibentuk atas landasan yang kokoh, yakni partisipasi aktif dan teratur secara meluas di kalangan masyarakat.

 Miskin prestasi
Selama satu dasawarsa terakhir (2000-2010), kondisi dan perkembangan olahraga di Indonesia umumnya dan khususnya di Aceh, masih belum menunjukkan peningkatan yang cukup bararti. Hasil penelitian Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, menunjukkan bahwa selama dekade 2000-2010, jumlah fasilitas lapangan olahraga untuk tiga jenis olahraga massa yang paling populer, yaitu sepakbola, bolavoli dan bulutangkis cenderung semakin berkurang. Seiring dengan semakin berkurangnya jumlah fasilitas olahraga massa, tingkat partisipasi masyarakat untuk melakukan kegiatan olahraga juga semakin berkurang.

Kondisi dan perkembangan olahraga yang masih “jalan di tempat” juga tercermin dari miskinnya prestasi yang berhasil diraih oleh para atlet Aceh. Hal ini dapat dilihat dari indikator prestasi yang raih Aceh pada Pekan Olahraga Nasional (PON) dari PON Surabaya (1 medali emas peringkat 27), PON Palembang (6 emas peringkat 22), Kaltim (4 emas peringkat 23), dan Riau (3 emas peringkat 25). Sedangkan alokasi dana dari pemerintah Aceh terus terjadi peningkatan yang sangat signifikan, yang tidak dimbangi dengan prestasi yang diperoleh.

Sejalan dengan hal itu, perlu segera dilakukan upaya untuk mengindetifikasi berbagai kendala dan masalah di dalam masyarakat yang melatarbelakangi terjadinya kondisi tersebut. Langkah yang paling mudah yang dapat segera dilakukan antara lain adalah melakukan pengumpulan dan pengkajian terhadap berbagai dimensi yang terkait dengan olahraga. Melalui pengkajian indikator secara menyuluh tentang kondisi olahraga tersebut diharapkan dapat diperoleh berbagai masukan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan bangunan olahraga Aceh. Hasil kajian yang disajikan dari level Provinsi dan Kabupaten juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk pemetaan dan penyusunan kebijakan bangunan Aceh ke depan.

Khususnya menghadapi persaingan olahraga pada abad sekarang dan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas SDM yang unggul dan tangguh pada era 2020, tampaknya kita perlu menyamakan visi, misi dan persepsi dalam kebijakan dan strategi pembangunan olahraga Aceh. Visi olahraga adalah unsur penting dalam kerangka pembentukan kekuatan dan kebanggaan bangsa. Misi adalah untuk mewujudkan upaya pembentukan manusia seutuhnya dan masyarakat yang berkualitas, meningkatkan produktivitas dan keunggulan daya saing; serta mewujudkan prestasi olahraga yang membanggakan dan mengangkat harkat martabat bangsa Aceh.

 Minyikapi perubahan

Atas dasar pemikiran tersebut, semua potensi seyogyanya diarahkan kepada upaya menggiatkan dan memberdayakan olahraga, tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan. Kebijakan pembangunan olahraga yang akan diterapkan, harus mampu mengakomodasi aspirasi, aspresiasi dan partisipasi masyarakat. Pemberdayaan olahraga dibutuhkan untuk menyikapi perubahan dan mengantisipasi tantangan, serta persaingan dan peluang yang akan dihadapi bangsa pada era globalisasi, agar mampu berkiprah, bertahan dan unggul di tengah pasar dan masyarakat.

Asumsi-asumsi yang mendasari pemikiran tersebut antara lain: Pertama, tantangan yang sangat mendasar adalah bagaimana mengembangkan dan mengimplementasikan pendekatan yang terintegrasi di bidang olahraga, yang melibatkan tidak saja badan usaha, tetapi juga secara budaya, pola pikir dan kemampuan, bahkan etika yang sesuai dengan ukuran dan standar global; Kedua, peranan olahraga sebagai penggerak modal dasar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), apabila dapat dilaksanakan secara terpola, terpadu dan terarah, diasumsikan akan mampu menjadi salah satu kekuatan unggulan;

Ketiga, olahraga di abad ini, dituntut untuk mampu berkirah dan berperan, tidak hanya di jalur pendidikan dan prestasi, tapi juga harus menjadi kekuatan penggerak yang penting dalam mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi di sektor tenaga kerja, industri dan jasa; Keempat, dituntut untuk mampu menjadi kekuatan pemersatu, terutama dalam membangkitkan rasa kebangsaan, kebanggaan dan kejuangan sebagai bangsa yang kuat dan mandiri, serta mampu berkiprah dan berprestasi di forum nasional dan internasional, sebagai bagian dari kebanggaan bangsa, yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa lain dalam iklam persaingan global.

Pola kebijakan pembangunan olahraga yang harus dilaksanakan antara lain: Pertama, pemerintah harus menyusun draft gagasan dan konsep grand design pembangunan olahraga Aceh; Kedua, memantapkan kelembagaan dalam manajemen olahraga untuk membentuk suatu lembaga atau badan yang akan berfungsi sebagai koordinator, motivator, dinamisator, dan inspirator pembangunan olahraga Aceh; Ketiga, reformasi kurikulum pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah, dalam rangka membutuk watak, disiplin, daya saing, sportivitas, intelegensi dan ketahanan fisik generasi muda;

Keempat, peningkatan produktivitas dan efesiensi tenaga kerja di sektor produksi, melalui penyertaan program kesegaran jasmani di tempat kerja; Kelima, reformasi sistem pelatihan SDM yang menangani olahraga; Keenam, membangunan kemintraan dalam bentuk pola win-win situation melalui kerjasama yang efektif dengan dunia usaha; Ketujuh, sangat pentingnya terwujudkannya qanun olahraga Aceh, yang akan mengatur seluruh aspek dan sendi yang terkait serta diperlukan untuk mendukung bangunan olahraga Aceh;

Kedelapan, memantapkan sistem informasi manajemen olahraga; Kesembilan, pengadaaan prasarana dan sarana olahraga, untuk mendukung pendidikan, olahraga masyarakat, serta pengembangan dan pemanfaatan iptek dalam olahraga; Kesepuluh, membangun kepedulian masyarakat, agar gerakan dan pembangunan olahraga benar-benar dapat menjangkau dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dan; Kesebelas, mengupayakan jaminan dan penghargaan kepada profesi olahraga, sehingga mencerminkan kesunggahan pemerintah terhadap kemajuan olahraga.

 Iklim yang kondusif

Strategi kebijakan pembangunan olahraga yang harus dilaksanakan, antara lain: Pertama, mengintensifkan upaya pemberdayaan dan pelaksanaan panji olahraga; Kedua, menciptakan iklim yang konduksif untuk berkembangnya olahraga sebagai kekuatan unggulan dan andalan pembangunan SDM; Ketiga, pembinaan dan pengembangan secara bertahap, berjenjang dan berkesinambungan, serta secara konsekwen dan konsiten; Keempat, semua aspek dan unsur yang terlibat dan terkait dengan olahraga, harus mendukung upaya ini, karena keberhasilannya tidak ditentukan oleh hanya satu aspek atau unsur saja.

* Dr. Nyak Amir, M.Pd,
Dosen Program Studi Magister Pendidikan Olahraga Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: amir_fkip@yahoo.com
Read more »»  

Selasa, 13 November 2012

PROGRAM LATIHAN TENIS

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesehatan adalah anugerah tuhan yang tidak ternilai harganya. Jika kita mengalami gangguan kesehatan seperti terkena influenza misalnya, maka kondisi seluruh tubuh akan mengalami gangguan. Oleh sebab itu, ini adalah salah satu dorongan tersendiri untuk menjaga kesehatan. Salah satu metode untuk menjaga kesehatan adalah dengan melakukan kegiatan kebugaran jasmani, khususnya olahraga tenis lapangan. Tujuan kami selain untuk menjaga kebugaran, juga bertujuan untuk melatih bibit – bibit petenis baru untuk mencapai suatu prestasi yang membanggakan. Baik untuk diri sendiri, sekolah, dan untuk masa depan. Oleh karena itu kami sebagai mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Tenis Lapangan menyusun Program Latihan Pembelajaran Tenis Lapangan. Kami harapkan program ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar pada waktunya nanti.
Rumusan Masalah
Latihan apa saja yang dilaksanakan dalam program latihan olahraga tenis lapangan?
Tujuan
Memahami dan mempraktekkan latihan-latihan dalan program latihan olahraga tenis lapangan.

PROGRAM LATIHAN DALAM OLAHRAGA
TENIS LAPANGAN

Menimang-nimang bola dengan menggunakan pukulan forehand, back hand dan volly. Bola ditaruh diatas daun raket, kemudian bola dipukul keatas dengan lintasan vertikal. Jangan terlalu kuat memukul bola.

Memantul-mantulkan bola ke tanah setinggi pinggang. Bola dipukul-pukul ke tanah. Tinggi bola pantulan setinggi pinggang.

Memantul-mantulkan bola ke tanah setinggi kurang lebih 30 cm di atas tanah. Bola dipukul-pukul ke tanah. Tinggi bola pantulan setinggi 30 cm.

  • Latihan melakukan gerakan service dengan tidak menggunakan bola.
  • Gerakannya seakan servis, namun belum menggunakan bola. Gunanya untuk melatih servis yang benar.
  • Latihan melakukan service dengan menggunakan bola dan diusahakan masuk.
  • Latihan memukul bola dengan di umpan teman di depannya dengan pukulan top spin.
  • Berpasangan 2 orang 2 orang. Salah satu memegang raket, yang satu mengumpan bola. Yang memegang raket memukul bola yang diumpan teman dengan pukulan top spin.
  • Latihan memukul bola dengan di umpan teman di depannya dengan pukulan back spin.
  • Berpasangan 2 orang 2 orang. Salah satu memegang raket, yang satu mengumpan bola. Yang memegang raket memukul bola yang diumpan teman dengan pukulan back spin.
  • Melakukan pukulan top spin ke tembok dan di ulang- ulang.
  • Kemudian, menghadap ke tembok. Melakukan pukulan top spin agar terbiasa melakukan top spin.
  • Melakukan pukulan top spin dengan di umpan sendiri dan di pantulkan ke tanah terlebih dahulu dari garis baseline.
  • Bola dijatuhkan sendiri. Kemudian ketika bola memantul bola dipukul menggunakan pukulan top spin.
  • Latihan memukul bola dengan ada lawan di depan , bergantian saling mengumpan forehand dan back hand.
  • Melakukan pukulan top spin berpasangan.

Kesimpulan
Diharapkan program latihan tersebut dapat dijalankan seperti mestinya sehingga tercapai semua yang diharapkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan tenis lapangan.

Daftar Rujukan
Donald a. Cgu, Ph.D. 2000. Tenis Tenaga. Jakarta
Glen, 2000. Tenis Today. USA.
Solehamin.2010. http://solehamin.wordpress.com/ekskul/tennis/, diakses pada tanggal 05 oktober 2010

 

Read more »»